Penduduk Qatar Menghimbau Untuk Mendonorkan Rambut Panjang Kepada Yayasan Anak-anak

Dalam usaha menolong anak-anak mancanegara yang telah kehilangan rambut mereka karena medikasi jangka panjang, sebuah salon di Qatar menghimbau kepada penduduk Qatar untuk mendonorkan rambut panjangnya yang telah dipotong (lock of hair).

Pada suatu acara satu hari penuh di bulan September nanti, untaian potongan rambut yang dikumpulkan oleh sebuah salon di Qatar yang bernama Glow American Salon akan disumbangkan lewat sebuah organisasi nirlaba Locks of Love yang berkedudukan di US.

Penduduk Qatar yang ingin melakukannya sendiri juga bisa menyumbangkan rambutnya ke yayasan Locks of Love secara langsung.

Yayasan itu membuat wig untuk anak-anak America dan Kanada yang menderita kerontokan rambut karena medikasi jangka panjang seperti pada kanker dan alopecia atau luka bakar yang mengakibatkan kehilangan rambut secara permanen.

Pimpinan salon Glow American Salon, Hillary Kozma, menyampaikan kepada Dohanews tentang kegiatan amal rambut panjang tersebut. Bahwa inspirasi itu datang dari seorang pelanggan wanita muda bernama Lauren yang pada suatu hari datang ke salonnya minta dipotong rambutnya untuk disumbangkan kepada anak-anak penderita kanker.

Dalam emailnya kepada Dohanews waktu itu ia menuliskan:

"Kita sangat tergugah dan terinspirasi oleh hal ini, dan memutuskan untuk menyelanggarakan acara satu hari penuh untuk mendukung lebih banyak perempuan melakukan hal yang sama."

"Menunjukkan bagaimana sebuah tindakan baik oleh satu orang bisa mempengaruhi ratusan orang. Kita ingin membuat perbedaan, dan kita akan menyelenggarakan sebuah acara yang akan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk membuat perbedaan juga."

Hillary menambahkan bahwa wig yang didonasikan akan membantu anak-anak untuk mengembalikan kepercayaan dirinya, kebanggaannya dan untuk hidup secara wajar, sehingga penderitannya bisa berkurang.

Ketentuan donor rambut adalah sbb:

  • Panjang rambut minimal 10 inch atau lebih (kira-kira 26 cm atau lebih)
  • Rambut yang dicat atau dikeriting bisa diterima
  • Wanita dengan rambut kribo boleh mendonorkan rambutnya jika panjangnya paling tidak 10 inch ketika diluruskan
  • Rambut yang diputihkan (di-bleach) tidak bisa didonasikan
  • Hair stylish (petugas salon) akan mencuci rambut terlebih dahulu (shampo) kemudian dikepangnya sebelum rambut dipotong satu inch di atas tanda 10 inch.
  • Pendonor kemudian akan dipotong rambutnya secara free style oleh petugas salon yang kira-kira akan disediakan sebanyak 18 orang.

Acara amal ini juga akan digabungkan dengan pelelangan voucher hotel dan manicure pedicure treatment.

Sumber: dohanews


Suku Pedalaman Muncul Dari Hutan Amazon Untuk Melakukan Kontak Dengan Dunia Luar

Penduduk asli pedalaman yang hanya mengenakan cawat dan bersenjatakan parang yang terselip dipinggangnya telah muncul dari hutan tropis Amazon dan menyeberangi sungai untuk melakukan kontak komunikasi dengan dunia luar mereka, seperti yang tampak dalam dokumentasi video yang dirilis oleh otoritas perlindungan suku pedalaman Brasil.

Mereka adalah dari kelompok suku yang berbahasa Panoa dan mengadakan kontak dengan kelompok suku Ashaninka yang tinggal di sepanjang bantaran sungai Ervira, di wilayah propinsi Acre, Utara Brasil, dekat dengan batas wilayah Peru.

Video tersebut direkam pada 30 Juni 2014, oleh team dari FUNAI (Fundacao Nacional do Indio) sebuah lembaga nasional perlindungan dan pemberdayaan suku pedalaman Brasil. Itu merupakan hari kedua mereka mengadakan kontak dengan suku Ashaninka, sebagaimana yang dikatakan FUNAI kepada  portal berita G1 yang memposting video tersebut

Dalam rekaman video tampak seorang dari suku Ashaninka yang bercelana pendek memberikan pisang kepada dua orang suku pedalaman Panoa yang hanya bercawat.

Menurut ahli kependudukan Brasil, mereka menyeberang perbatasan karena menghadapi tekanan dari para perambah hutan liar dan para penyelundup obat-obatan terlarang.

Sebagaimana yang terlihat dalam video, mereka mengambil kapak dan parang. Salah seorang anthropologist mengatakan mereka datang untuk mencari teknologi yang mereka perlukan untuk survive

Kontak pertama dengan suku Indian Panoa terjadi pada 26 Juni, kemudian FUNAI datang ke daerah tersebut bersama dua orang penterjemah bahasa ketika mereka mengambil merekam pertemuan itu.

Salah seorang penterjemah yang bernama Jaminawa Jose Correia mengatakan, "Mereka berbicara dalam bahasa kita, saya sangat gembira kita bisa saling berbicara." Dikatakannya, "mereka mengeluarkan siulan dan suara-suara seperti binatang. Maksud kedatangan mereka adalah untuk mencari senjata dan sekutu."

"Mereka menjelaskan bahwa mereka sedang diserang oleh orang luar dan sebagian besar dari mereka meninggal dalam pelarian karena flu dan diptheria, "tambahnya kepada portal berita G1.

Sebenarnya mereka telah kembali ke dalam hutan tiga minggu sebelumnya, tetapi kemudian muncul kembali karena adanya wabah flu dan diptheria. Kelompok pejuang hak-hak Survival International mengatakan, kondisi akhir-akhir ini sangat mengkawatirkan mengingat telah pernah jatuh banyak korban pada suku pedalaman yang disebabkan oleh wabah influenza.

Hutan Amazon didiami oleh banyak sekali suku primitif yang menurut perkiraan FUNAI ada lebih dari 77 suku.

sumber: AFP, Telegraph, G1