Penduduk asli pedalaman yang hanya mengenakan cawat dan bersenjatakan parang yang terselip dipinggangnya telah muncul dari hutan tropis Amazon dan menyeberangi sungai untuk melakukan kontak komunikasi dengan dunia luar mereka, seperti yang tampak dalam dokumentasi video yang dirilis oleh otoritas perlindungan suku pedalaman Brasil.
Mereka adalah dari kelompok suku yang berbahasa Panoa dan mengadakan kontak dengan kelompok suku Ashaninka yang tinggal di sepanjang bantaran sungai Ervira, di wilayah propinsi Acre, Utara Brasil, dekat dengan batas wilayah Peru.
Video tersebut direkam pada 30 Juni 2014, oleh team dari FUNAI (Fundacao Nacional do Indio) sebuah lembaga nasional perlindungan dan pemberdayaan suku pedalaman Brasil. Itu merupakan hari kedua mereka mengadakan kontak dengan suku Ashaninka, sebagaimana yang dikatakan FUNAI kepada portal berita G1 yang memposting video tersebut
Dalam rekaman video tampak seorang dari suku Ashaninka yang bercelana pendek memberikan pisang kepada dua orang suku pedalaman Panoa yang hanya bercawat.
Menurut ahli kependudukan Brasil, mereka menyeberang perbatasan karena menghadapi tekanan dari para perambah hutan liar dan para penyelundup obat-obatan terlarang.
Sebagaimana yang terlihat dalam video, mereka mengambil kapak dan parang. Salah seorang anthropologist mengatakan mereka datang untuk mencari teknologi yang mereka perlukan untuk survive
Kontak pertama dengan suku Indian Panoa terjadi pada 26 Juni, kemudian FUNAI datang ke daerah tersebut bersama dua orang penterjemah bahasa ketika mereka mengambil merekam pertemuan itu.
Salah seorang penterjemah yang bernama Jaminawa Jose Correia mengatakan, "Mereka berbicara dalam bahasa kita, saya sangat gembira kita bisa saling berbicara." Dikatakannya, "mereka mengeluarkan siulan dan suara-suara seperti binatang. Maksud kedatangan mereka adalah untuk mencari senjata dan sekutu."
"Mereka menjelaskan bahwa mereka sedang diserang oleh orang luar dan sebagian besar dari mereka meninggal dalam pelarian karena flu dan diptheria, "tambahnya kepada portal berita G1.
Sebenarnya mereka telah kembali ke dalam hutan tiga minggu sebelumnya, tetapi kemudian muncul kembali karena adanya wabah flu dan diptheria. Kelompok pejuang hak-hak Survival International mengatakan, kondisi akhir-akhir ini sangat mengkawatirkan mengingat telah pernah jatuh banyak korban pada suku pedalaman yang disebabkan oleh wabah influenza.
Hutan Amazon didiami oleh banyak sekali suku primitif yang menurut perkiraan FUNAI ada lebih dari 77 suku.
sumber: AFP, Telegraph, G1
No comments:
Post a Comment